Tertular Virus Mak Banoet (Sebuah Catatan Perjalanan Mengenai Semangat dan Ketekunan)

Namanya Nurlina Banoet-Toto tetapi orang-orang lebih sering memanggilnya dengan sebutan Mak Banoet. Umurnya sudah tergolong senja, 70 tahun, namun badannya masih tegap dan bugar dan yang paling penting, untuk urusan merajut tak ada yang bisa menyamai semangatnya.

Perkenalanku dengan Mak Banoet dimulai ketika saya dan teman-teman dari  tempatku bekerja sekarang ini sedang meliput kegiatan yang dilaksanakan di desa tempat Mak Banoet tinggal yakni di desa Bosen, kecamatan Molo Utara, Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS), NTT. Kebetulan acara seremonial dan wawancaranya berlangsung di kediaman Mak Banoet. Suaminya, bapak Agustinus Banoet adalah salah seorang tokoh masyarakat yang disegani dan seorang pensiunan guru.


Mak dan Bapak Banoet

Ketika kawan-kawan jurnalis kami melakukan wawancara, saya mengisi waktu dengan bercakap-cakap dengan para mamak dan bapak yang sedang berkumpul di ruang tamu Mak Banoet. Tiba-tiba mata saya tertumpu pada meja dihadapan saya. Sebuah taplak meja rajutan berwarna merah muda menutupi permukaan meja dengan indahnya. Sebenarnya bukanlah hal yang aneh menemukan taplak meja rajutan di rumah-rumah penduduk desa karena biasanya merajut adalah keahlian turun temurun yang diwariskan kepada anak cucu. Dan juga bukan hanya karena saya memang senang merajut sehingga saya tertarik dengan taplak meja rajutan tersebut. Yang membuat taplak meja rajutan ini begitu indah karena teknik rajutan yang digunakan begitu bervariasi dan berbeda dari yang biasa saya lihat di rumah-rumah lainnya.

Di ruang tamu Mak Banoet terdapat dua meja tamu besar dan beberapa meja kecil di sudut-sudut ruangan. Semuanya ditutupi dengan taplak rajutan. Di meja tamu pertama taplak mejanya menggunakan benang rajutan wol berwarna merah muda dengan teknik basket weave dan edging yang berkerut cantik. Di meja lainnya rajutan taplaknya menggunakan teknik kombinasi warna dan tusukan diagonal. Di sudut ruangan pun mejanya ditutupi dengan taplak rajutan berwarna krem dengan teknik zigzag. Ada juga meja yang dihiasi dengan taplak dengan teknik tusukan popcorn kombinasi jaring laba-laba. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah siapapun yang membuatnya pastinya sangat menguasai teknik rajutan dan lihai memainkan jarumnya meskipun benang yang digunakan adalah benang wol sintetik biasa karena hasilnya sangat indah.


Aneka taplak meja buatan Mak Banoet

Dipenuhi rasa ingin tahu yang tinggi saya bertanya kepada seorang mamak yang duduk disamping saya siapa yang membuat semua taplak meja tersebut. Sambil tertawa malu-malu Mak Banoet yang berada diseberang meja menjawab kalau dia yang membuat semua rajutan taplak meja di rumah ini. Seketika percakapan kami diruang tamu siang itu langsung berubah haluan. Saya pun dengan hati menggebu-gebu lalu menodong Mak Banoet untuk menceritakan kepada saya mengenai asal muasal serta teknik rajutan yang beliau kerjakan.

Tak kalah bersemangatnya dari saya, Mak Banoet mengisahkan perkenalannya dengan dunia merajut. Kala itu Mak Banoet masih duduk di kelas 6 SR atau Sekolah Rakyat di SoE (ibukota Kabupaten TTS). Umumnya pada masa itu anak-anak remaja perempuan dan ibu-ibu bergabung dengan kelompok-kelompok keterampilan wanita yang ada di desa mereka. Mak Banoet yang kelahiran tahun 1942 itu pun turut bergabung dengan kelompok Kaum Gadis bersama teman-teman remaja lainnya. Seorang wanita berdarah Belanda yang bernama nyonya Midelcoup (saya tidak tahu cara penulisannya dan begitupun Mak Banoet) yang tinggal di SoE kerap mengajarkan kelompok perempuan desa dengan berbagai macam ketrampilan tangan termasuk merajut. Nyonya Midelcoup juga mengajarkan berbagai teknik tusukan  breien dan haken (istilah lain Knitting dan Crochet dalam bahasa Belanda) kepada Mak Banoet.


Taplak meja rajutan (basket weave)

Ketika saya menanyakan lebih lanjut mengenai jenis-jenis tusukan apa saja yang Mak Banoet sudah kerjakan, beliau pamit sebentar masuk ke dalam kamarnya dan tak lama kemudian keluar dengan membawa setumpuk proyek rajutan yang pernah dan sedang beliau kerjakan. Saya dengan refleksnya berseru kagum melihat proyek rajutan yang Mak Banoet sementara kerjakan. Rencananya Mak Banoet akan membuatkan baju hangat untuk cucunya dari rajutan. Yang membuat saya kagum adalah beliau menggunakan teknik cable knit yang hasilnya sangat cantik. Mak Banoet lanjut menjelaskan bahwa karena desa Bosen lokasi cukup tinggi di perbukitan maka dengan suhu yang cukup dingin membuat orang-orang lebih sering membuat baju hangat. Beliau juga menunjukkan baju hangat untuk dirinya yang sudah selesai dan menggunakan teknik zigzag knitting. Sayangnya saya kurang jelas dengan istilah-istilah tusukan yang Mak Banoet jelaskan karena menggunakan bahasa Belanda. Mamak-mamak dan bapak-bapak yang lain tertawa-tawa melihat saya dan Mak Banoet nampak serius membahas soal rajutan


Mak Banoet sedang merajut sweater untuk cucunya (cable knit)

Sedikit mengeluh, Mak Banoet mengatakan keprihatinannya kepada saya mengenai kurangnya minat anak-anak muda sekarang mempelajari rajutan. Mak Ros (44 tahun) dan Mak Ripka (38 tahun) yang berada diruangan sama juga mengiyakan apa yang dikeluhkan oleh Mak Banoet. Bahkan mereka berdua mengakui bahwa mereka tak begitu tahu soal merajut, paling banter menggunakan tusukan dasar merenda (crochet) untuk taplak atau karya lainnya. Padahal, menurut Mak Banoet, dahulu anak gadis di kampungnya belum boleh menikah bila belum menguasai cara memenun dan merajut. Ketika saya tanyakan alasannya beliau lanjut menjelaskan bahwa adat kebiasaan di NTT ketika pernikahan adalah biasanya pihak laki-laki akan menyiapkan belis atau semacam  mas kawin/mahar atau uang panaik dibudaya bugis-makassar. Belis NTT umumnya berupa sejumlah uang, ternak dan atau barang-barang yang telah disepakati sebelumnya. Dibeberapa  daerah di NTT belis juga ada yang berupa gading, misalnya di Flores Timur dan Lembata serta Sumba Barat. Ini semacam syarat syahnya sebuah pernikahan. Dalam tradisi budaya di NTT, belis ini diberikan kepada pihak perempuan karena pengantin perempuan akan menjadi bagian dari suku suaminya dan meninggalkan keluarganya.

Seperti halnya uang panaik dibudaya kita di Sulawesi Selatan yang penuh kontroversial, demikian halnya dengan budaya belis di NTT yang oleh sebagian orang bahkan terkadang dianggap sebagai simbol komoditas perempuan. Namun, kali ini saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai belis. Kembali ke soal rajutan dan Mak Banoet, beliau menambahkan bahwa meskipun pihak laki-laki akan memberikan belis tetapi pihak perempuan tetap harus mempersiapkan barang-barang yang akan mengisi rumah sang pengantin. Nah, biasanya disiapkan mulai dari perabotan, peralatan dan sebagainya termasuk pula didalamnya aksesoris ruangan semacam taplak meja, kain hiasan kursi dan sebagainya. Aksesoris inilah yang biasanya terbuat dari rajutan. Makanya, biasanya selain harus bisa menenun untuk persediaan kain adat, juga para anak gadis mesti bisa merajut. Namun, ketrampilan ini semakin kurang peminatnya lagi. Semakin mudahnya akses terhadap pasar dan maraknya industri barang-barang rajutan dengan harga murah membuat keluarga-keluarga merasa lebih mudah dan terjangkau apabila keperluan persiapan pernikahan cukup dibeli di pasar daripada dibuat sendiri. Selain itu, jenis benang rajutan dan peralatan lainnya cukup sulit didapatkan di NTT.


Baju hangat Mak Banoet

Mak Banoet sendiri harus pergi ke SoE jika ingin membeli benang. Dari Desa Bosen ke SoE jarak tempuhnya kurang lebih 1 jam dengan motor ojek. Di SoE ada kios yang menjual berbagai macam pernak-pernik seperti benang sulam, benang rajut, jarum, pita dan sebagainya. Pemiliknya bernama ibu Manulaga, seorang blasteran Belanda. Di kios ibu Manulaga inilah Mak Banoet biasa membeli benang rajutan. Segulung besar benang wool sintetik dihargai sebesar Rp. 20.000. Kata beliau,  benang yang dijual untuk rajutan hanya jenis wool. Itupun dari bahan yang kasar dan gatal bila dipakai. Untuk jarum haken (crochet) dan breien (knit), Mak Banoet tak lagi begitu tahu harganya. Beliau membeli jarum haken dan breiennya beberapa tahun lalu. Waktu itu harganya masih sekitar Rp. 1.000 sampai Rp. 2.500 per buah. Merek jarum hakennya rose dan tulip. Karena biasanya Mak Banoet mengerjakan beberapa proyek rajutan sekaligus, maka beliau dengan kreatifnya juga membuat sendiri jarum breien dari rotan/lidi panjang yang diamplas sehingga permukaan kulitnya halus dan bisa digunakan untuk merajut. Hasilnya tak kalah dengan jarum SPN yang dijual ditoko-toko online rajutan yang biasa saya beli. Yang penting bisa dipakai merajut, katanya.

Saya lalu teringat pada berbagai ukuran jarum knitting saya yang yang sangat jarang saya sentuh dan konon kabarnya terbuat dari bambu terbaik Jepang serta jarum crochet saya yang merek luar negeri dengan pegangan seperti pegangan sikat gigi. Belum lagi koleksi benang saya dengan bermacam-macam jenis, ukuran dan warna yang tak lagi muat dalam box plastik besar di kamar karena terus bertambah namun jarang dipakai. Seketika saya menjadi malu hati pada Mak Banoet. Dalam kesederhanaannya Mak Banoet masih tekun dan bahkan tanpa menggunakan kacamata merajut untuk orang-orang yang beliau kasihi dengan bahan dan peralatan seadanya tetapi hasilnya sungguh luar biasa indahnya. Sampai sekarang saya baru bisa membuat topi, syal, sepatu bayi dan bros saja, itupun hanya menggunakan teknik dasar tusukan. Masih jauh dibanding Mak Banoet yang sangat lincah memadupadankan berbagai teknik rajutan pada karya-karyanya. Untuk sebuah baju hangat orang dewasa diperlukan waktu sekitar 1 bulan pengerjaan karena biasanya Mak Banoet merajut setelah semua pekerjaan rumahnya selesai dan disambi dengan proyek rajutan lainnya.


Mengurai benang yang kusut

Sambil sesekali menyeka sudut matanya yang mulai berair karena terlalu lama menunduk untuk fokus pada rajutannya, Mak Banoet berbagi impiannya untuk bisa meneruskan ilmu merajutnya kepada anak-anak remaja di desa Bosen. “ Anak-anak sekarang lebih suka menghabiskan waktunya dengan hape-nya dibandingkan duduk belajar merajut. Mereka sonde senang berlama-lama bikin sesuatu karena sekarang su gampang dapat baju-baju hangat di pasar dengan bahan-bahan yang lebih bermacam-macam. “ ujar Mak Banoet sendu sambil tetap meneruskan rajutannya.


Merajut bersama

Saya lalu menceritakan kepada Mak Banoet dan para mamak dan bapak yang turut mendengarkan percakapan rajutan kami sedari tadi bahwa sekarang ini di beberapa kota di Indonesia termasuk di Makassar tempat saya tinggal sudah banyak komunitas-komunitas perajut yang terdiri dari berbagai usia, jenis kelamin dan latar belakang. Umumnya anggotanya terdiri dari mereka yang hobi merajut dan mereka yang baru mau belajar merajut. Rata-rata anggotanya pun anak-anak, remaja dan dewasa muda. Mendengar cerita saya, Mak Banoet nampak senang dan berkata ingin sekali berkenalan dengan anggota komunitas perajut yang saya kenal. Saya pun berjanji akan menceritakan kepada teman-teman perajut saya mengenai Mak Banoet dan semoga semangat merajutnya bisa tertularkan kepada kami semua serta impiannya agar anak-anak muda desa Bosen meneruskan keterampilan merajutnya bisa terkabul. Sebelum pulang saya memeluk Mak Banoet yang dibalas dengan ciuman idung khas NTT. Terima kasih Mak Banoet. (Nyomnyom)

One Response to “Tertular Virus Mak Banoet (Sebuah Catatan Perjalanan Mengenai Semangat dan Ketekunan)”

  1. nisa Sep-6, 2012

    Reply

    kereeeen… teknik yang advanced bisa bikin hasilnya bagus ya. waa, jadi semangat pengen blajar lagi. :)

Leave a Reply